Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menggugat PLN Wilayah Aceh

Oleh : Muhammad Syarif, SH.I, M.H*
 
Tahun 2014 layak disebut tahun kemandekan pelayanan PLN Wilayah Aceh. Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Sejak Februari s/d Maret 2014 kinerja PLN semakin jelek. Rentetan mati lampu terutama wilayah Kota Banda Aceh dan Aceh besar, kian menuai protes banyak pelanggan. 
Bahkan seorang Warga Kota melaporkan kinerja PLN ke Ombusmand RI Perwakilan Aceh. Sumpah serapahpun kian hari, semakin tajam di media sosial seperti Facebook, twitter. Bahasa sindiran juga tidak kalah banyak di Black Berry Mesenger (BBM). PLN; Perusahaan Lilin Negara. Warga Aceh terutama Banda Aceh dan Aceh Besar sudah gerah dengan pelayanan PLN yang semakin hari, semakin tidak profesional.

Lalu siapa yang disalahkan? Manajemen PLN kah..? atawa konsumen yang mungkin tidak disiplin dalam membayar rekening listrik. Tentu kita tidak tahu dengan pasti dibalik matinya lampu yang hampir saban malam. Ekses mati lampu banyak warga mengeluh, ini cukup beralasan karena barang-barang elektronik cepat rusak akibat tidak stabilnya arus listrik.
Musibah kebakaran pun terjadi. Senin malam pukul 22.00 WIB, 20 Rumah ludes terbakar di Gampong Beurawe, Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh, Semua barang tidak sempat diselamatkan karena api cepat menyambar ke seluruh rumah. Perumahan di kawasan padat itu memang kebanyakan terbuat dari kayu. (http://www.merdeka.com/peristiwa/20-rumah-kos-di-aceh-terbakar-harta-benda-ludes.html).
Untuk itulah sudah saatnya pihak PLN harus bertanggungjawab atas setiap kejadian pasca ekses mati lampu di Aceh. Jika tidak maka rakyat Aceh berhak melakukan gugatan class action kepada PLN Wilayah Aceh.
* Mantan Aktifis`98