Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mantan Presiden Iran Akui Syiah Senang dengan Terbunuhnya Umar bin Khattab, dan Memperingatinya Adalah Ibadah


Hashemi Rafsanjani

Teheran. Mantan presiden Iran, Hashemi Rafsanjani, mengakui bahwa orang Syiah biasa mencela para sahabat Nabi. Hal itulah yang akhirnya menimbulkan permusuhan antara Syiah dan Sunni, hingga akhirnya lahirlah kelompok-kelompok seperti ISIS.

Lebih lanjut, Rafsanjani, mengatakan, “Al-Quran telah memperingatkan kita agar tidak berselisih dan terpecah-belah. Tapi kita sama sekali tidak memperhatikannya. Perselisihan Syiah-Sunni tetap saja terjadi dengan mencela sahabat, memperingati peristiwa terbunuhnya Umar bin Khattab, dan sebagainya,” seperti dilansir Memo Islam, Kamis (14/11/2014) kemarin.

Aktivitas-aktivitas itu, Rafsanjani menerangkan, sudah menjadi hal biasa bagi banyak orang, bahkan menganggapnya sebagai sebuah ibadah. Karena itulah, terjadi perpecahan antara Sunni dan Syiah, hingga akhirnya muncul kelompok-kelompok seperti Al-Qaidah, ISIS, Taliban, dan lainnya.

Dr. Muhammad As-Saidi, guru besar Ushul Fiqh Universitas Ummul Qura, berkomentar tentang pengakuan mantan presiden yang masih sangat berpengaruh dalam politik Iran itu. Menurut As-Saidi, pengakuan itu tidak berarti membersihkan reputasi Rafsanjani, melainkan hanya membuka kedok kebusukan Syiah.

Hal itu karena Rafsanjani mengeluarkan pernyataan itu bukan sebagai sebuah penyesalan taubat, melainkan hanya merupakan hasil pertimbangan politik. Pernyataan ini seharusnya menjadi pegangan umat Islam yang selalu dituduh sebagai biang keladi muncul terorisme. Ternyata biang keladinya adalah Syiah. (msa/dakwatuna)