Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mesir Negara Pertama yang Secara Resmi Mendukung Kemerdekaan Indonesia


Oleh Heri Hidayat Makmun

Setelah proklamasi dikumandangkan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 oleh Ir. Soekarno dan Dr. Mohammad Hatta yang secara cepat tersebar ke berbagai penjuru negari dan bahkan dunia. Usaha ini dilakukan oleh H. Agus Salim dan kawan-kawan. Agus Salim, M. Natsir dan lain-lain berkeliling dari Negara-ke Negara untuk mendapatkan dukungan dan pengakuan dunia. 

Saat Delegasi resmi RI yang dipimpin oleh Agus Salim yang pada waktu itu menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri mengunjungi Mesir untuk mendapatkan pengakuan dunia sejak proklamasi Kemerdekaan. Kunjungan ini menghasilkan perjanjian persahabatan RI dan Mesir (Juni, 1947). Tanggal 10 Juni 1947, Agus Salim berhasil mendapatkan dukungan Mesir untuk menjalin kekerabatan intim dengan Indonesia. Dukungan ini cukup heroik dan penuh perjuangan. 

Pemerintah Mesir mengirim langsung konsul Jenderalnya di Bombay yang bernama Mohammad Abdul Mun’im ke Ibu Kota Negara, Yogyakarta, dengan menembus blokade Belanda untuk menyampaikan dokumen resmi pengakuan Mesir kepada Negara Republik Indonesia. Syukur perjalanan Mohammad Abdul Mun’im ke Yogyakarta yang penuh resiko ini berhasil sampai tujuan. Surat Resmi dari Pemerintah Mesir sampai ke tangan Presiden Soekarno. 


Tidak hanya pemerintahannya saja, Rakyat Mesir pun bersimpati dengan perjuangan RI. Simpati ini berupa sebuah resolusi dari hasil rapat umum partai-partai politik dan organisasi massa pada 30 Juli 1947 Mesir. Dalam rapat tersebut juga dihadiri oleh Presiden Tunisia, Habib Burguiba, Kepala Negara Maroko, Allal A Fassi. Isi hasil rapat umum rakyat Mesir tersebut yaitu: (1). Pemboikotan barang-barang buatan Belanda di seluruh negara-negara Arab; (2). Pemutusan hub diplomatik antara negara-negara Arab dan Belanda. (3). Penutupan pelabuhan-pelabuhan dan lapangan-lapangan terbang di wilayah Arab terhadap kapal-kapal dan pesawat-pesawat Belanda (secara konkret poin ini dilaksanakan di Terusan Suez); (3). Pembentukan tim-tim kesehatan untuk menolong korban-korban agresi Belanda. 

Rakyat Mesir juga mengirimkan misi Bulan Sabit Merah ke Indonesia lengkap dengan obat, alat kesehatan dan tim dokter. Sebelum berangkat ke Mesir, Agus Salim sudah terlebih dahulu berangkat ke New Delhi, India, yaitu pada akhir Maret 1947. Dalam kunjungannya tersebut Agus Salim sudah berada di New Delhi, India. Kunjungannya ini tidak hanya untuk mencari dukungan internasional tetapi juga sebagai penasehat delegasi kontingen Indonesia dalam Inter-Asian Relations Conference (Konferensi Hubungan Antar-Asia). 

Kesempatan ini digunakan oleh Agus Salim untuk memperkenalkan Indonesia dalam pergaulan internasional. Kesempatan ini digunakan untuk menjalin hubungan dan berdialog dengan para pemimpin India, baik yang tergabung dalam Indian National Congress seperti Jawaharlal Nehru, maupun tokoh-tokoh politik Indonesia semisal Muhammad Ali Jinnah dari All-India Moslem League. Sebelum pernyataan resmi para tokoh nasional India ini bersimpati dan memberikan dukungan atas kemerdekaan Indonesia. 

Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno mengirim delegasi resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah delegasi pemerintah RI pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara pertama yang disinggahi delegasi tersebut. Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Beda dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini lebih intens. Di Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi Mesir dan Dunia Arab mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa simpati. 

Selain pejabat negara, sejumlah pemimpin partai dan organisasi juga hadir. Termasuk Ulama Mesir yang disegani, Hasan al Banna. Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh setiap penduduk Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para mahasiswa Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan diplomasi revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan para tokoh Mesir. Ketika Belanda melancarkan agresi Militer I (21 Juli 1947) atas Indonesia, para mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis pemuda Mesir menggalang aksi pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez. 

Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Mesir tersebut yang menguasai Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal Belanda. Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang dipimpin kapal kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan rakyat Mesir yang sangat bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia yang kebanyakan terdiri dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di pelabuhan utara kota Ismailiyah itu. 

Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan air guna menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan perusahaan-perusahaan asing yang ingin menyuplai air minum dan makanan kepada kapal Belanda itu. Bagi RI perjanjian ini adalah suatu dukungan moral yang tinggi, karena dengan perjanjian ini kehadiran RI diakui secara resmi dalam pergaulan internasional. Mesir akan selalu dikenang sebagai negara yang pertama kali mengakui kedaulatan RI. Setelah itu menyusul perjanjian persahabatan dengan Suriah (3 Juli 1947) dan Lebanon (9 Juli 1947) serta Irak. 

Tidak lama setelah Mesir dukungannya, negara-negara Timur Tengah lain juga ikut memberikan dukungan, seperti Arab Saudi, Palestina, Libanon, Yaman, Afghanistan, India, dan Burma. Kemudian organisasi internasional di Timur Tengah, Liga Arab (Arab League) juga berperan penting dalam Pengakuan RI. 

Secara resmi keputusan sidang Dewan Liga Arab tanggal 18 November 1946 menganjurkan kepada semua negara anggota Liga Arab (Arab League) supaya mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat. Negara-negara tersebut merupakan Negara yang istimewa karena secara diplomatis memberikan dukungan pertama sekali saat RI membutuhkan kekuatan moril dalam kancah Internasional yang baru dimulai. 

Apalagi kekuatan diplomasi Belanda juga genjar dilakukan dinegara-negara Eropa Barat, seperti Inggris yang setara tegas mendukung posisi Belanda untuk tetap bertahan di Hindia Belanda, demikian juga dengan mayoritas negara-negara di Eropa Barat. Negara-negara anggota yang tergabung dalam South West Pasific Command (SWPC) yang tergabung dalam negara pemenang perang dunia II juga sangat mendukung pembentukan kembali Pemerintah Hindia Belanda. 

Terbukti SWPC yang dipimpin Jenderal McArthur (AS) membentuk South East Asia Command (SEAC) di bawah pimpinan Laksamana Lord Mountbatten (Inggris) untuk kembali membawa NICA Belanda ke Indonesia yang menyebabkan perang-perang besar paska proklamasi 17 Agustus 1945. Hal ini memunculkan kompetisi untuk merebut hati Negara untuk mendapatkan dukungan baik dari pihak Indonesia maupun dari Pihak Belanda. Kondisi ini sangat di pahami oleh Agus Salim dan kawan-kawan, tetapi kepiawaian diplomasi Agus Salim memang luar biasa. 

Kemahiran Agus Salim dalam mengolah kalimat tidak lepas dari asal tanah kelahirannya, yakni Minangkabau yang ahli dalam berpantun, sair dan bercakap sebagai modal diplomasi politik yang dilakukannya. Perjuangan hak kedaulatan bangsa berhasil menyudutkan Belanda dalam percaturan politik internasional. Negara-negara sahabat yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia tersebut berhasil membawa masalah Indonesia ke Sidang Dewan Keamanan PBB. Belanda bukan saja gagal total menjadikan perjuangan kemerdekaan Indonesia sebagai "masalah dalam negeri", tetapi juga harus menerima perantara internasional untuk menyelesaikan konflik dua bangsa.

sumber