Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Serial pernikahan: Saling mengingatkan dalam taqwa

Ibu Suriawati Hasballah dan suami, Ust Moharriadi


SALING MENGINGATKAN DALAM TAQWA
Oleh Suriawati Hasballah

Berumah tangga bagi seorang Muslim tidak hanya didasari oleh sebuah kebutuhan akan fitrah untuk hidup berpasangan dengan lawan jenis. Lebih dari itu, berumah tangga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah kepada Allah SWT.

Rasulullah bersabda, ''Barangsiapa menikah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan separuh iman, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam separuh yang tersisa.'' (HR Thabrani).

Setiap pasangan suami-istri selalu memiliki kekurangan dan kelebihannya. Disinilah dibutuhkan  pengertian untuk saling melengkapi kekurangan yang dimiliki oleh pasangan, sehingga bisa saling mengingatkan dalam taqwa.

Mari kita cermati percakapan antara sahabat Umar bin Khattab ra. dan Ubay bin Ka’ab ra. Umar yang meriwayatkan atsar ini bertanya kepada Ubay, “Wahai Ubay, apa makna taqwa?” Ubay yang ditanya justru balik bertanya. “Wahai Umar, pernahkah engkau berjalan melewati jalan yang penuh duri?” Umar menjawab, “Tentu saja pernah.” “Apa yang engkau lakukan saat itu, wahai Umar?” lanjut Ubay bertanya. “Tentu saja aku akan berjalan hati-hati,” jawab Umar. Ubay lantas berkata, “Itulah hakikat taqwa.”

Kunci dari taqwa adalah hati hati...

●Dalam memilih pasangan ( bagi yang belum menikah ) , seorang yang bertaqwa akan sangat hati-hati. Karena bahtera rumah tangga akan menempuh lerjalanan yang panjang, selalu bersama sepanjang hayat maka harus berhati-hati dalam memilih. Bukan karena harta atau rupa atau tahta, sebab hal ini hanya sementara saja. 

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari-Muslim)

● Berhati-hati dalam memainkan peran sebagai seorang suami maupun istri. Seorang suami sebagai kepala rumah tangga harus mampu tampil sebagai pemimpin yang bijaksana, menyangi dan membimbing istri sepenuh hati.  

Pemimpin yang bijaksana adalah yang mampu mengayomi pasangannya. Demikian pula seorang istri akan sepenuh hati berusaha melayani suami, menjadikan rumah sebagi surga terindah, tempat peristirahatan yang nyaman, tempat melepas penat suami setelah seharian bekerja dan tentunya seorang istri harus mampu menjadikan rumahnya menjadi tempat tujuan suami melampiaskan kerinduannya agar terhindar dari fitnah  di luar. 

Ketaqwaan membimbing masing-masing suami-istri menjalankan amanah masing-masing dengan penuh kehati-hatian, karena mereka sadar bahwa setiap mereka adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban masing-masing. 

….Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut…. (HR. Bukhari)

● Kehati-hatian suami istri akan tanggungjawabnya mendidik putra-putrinya. Keluarga harus mampu menjelma menjadi madrasah yang yang baik untuk anak-anak. Orangtua adalah guru terbaik bagi mereka. 

Maka, dalam setiap tingkah laku, ucapan, diam atau bicaranya, senang maupun susahnya, senang maupun kemarahannya harus mampu ditampilkan menjadi sebuah tuntunan yang layak ditiru orang anak-anak. Pelajaran yang paling berkesan adalah keteladanan. Anak-anak akan terpengaruh dengan suasana rumahnya. 

Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang harmonis akan tumbuh dalam kebahagiaan, sedangkan anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak nyaman akan susah kehilangan tempat yang paling indah, sehingga menggerakkan mereka mancari kebahagiaan di tempat lain yang belum tentu sesuai dengan tuntunan agama.

#Bunda Wati
#Serial Komunikasi keluarga 
#GemgamEratTangankuMenujuTaqwaYangBerujungKeSyurga. Amin...

Posting Komentar untuk "Serial pernikahan: Saling mengingatkan dalam taqwa"