Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Adab Terhadap Sesama Pemanah (Part 1)


Oleh Sonia Ananda Juned

Selayaknya kedatangan seorang pemanah ke arena memanah adalah beradab dengan baik terhadap sesama pemanah. Diantara sikap yang baik terhadap sesama pemanah yaitu,

1. Memberi salam dan mempererat ukhuwah. Hal paling mahal pada setiap zaman adalah persatuan. Karena setan dan bala tentaranya tidak pernah rela anak Adam bersatu di jalanNya. 

BACA JUGA : Adab Memegang Busur Pertama Kali

Maka berupayalah menjaga, menghargai, muhasabah diri, memperbaiki persaudaraan sesuai kesanggupan. Ingat-ingatlah kembali apa niat kamu memanah.

Maka bila datang saudaramu ke majelis memanah, berlapanglah di dalam majelis. Dan bagi yang baru datang bersikap sopanlah.

2. Tidak lantang menanyakan "Berapa Lbs busurmu?"

Sudah mafhum di kalangan para pemanah untuk tidak menanyakannya. Karena pertanyaan demikian seakan mengukur "seberapa jago" yang ditanya dan dapat menyinggung perasaan pemanah lain karena merasa direndahkan atau sebaliknya merasa jumawa. Dan adalah hak yang ditanya untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut. 

Imam Abu Al-Hasan mengatakan: Telah menjadi kesepakatan para ulama memanah bahwa "Separuh kejujuran seorang pemanah bila menggunakan busur di bawah kapasitas kekuatannya." *

Maka bisa saja seorang pemanah yang mahir, hari ini menggunakan busur tarikan rendah dan lain hari menggunakan tarikan tinggi sesuai kondisi yang ia butuhkan. Juga, karena ia mempunyai busur lebuh dari satu dirumahnya. 

Maka jangan risau mengurus urusan Lbs busur seseorang, itu bukan urusanmu, kecuali seorang guru memanah yang memantau perkembangan anak muridnya atau seorang bowyer penjual alat panah.

Disebutkan guru kami Habib Qori Afrizan Al-Khered dalam Pusaka Ilmu Memanah Dalam Islam: " Pada umumnya,  para ahli hanya saling membanggakan diri dalam hal menyempurnakan teknik dan grouping anak panah pada sasaran. 

Selain dua perkara ini,  mereka tidak pernah membicarakannya, apalagi membahas berat tarikan suatu busur yang melampaui kekuatan pemiliknya."

Maka janganlah bertanya sembarangan berapa Lbs busur seseorang, karena tidak ada yang menjawabmu. Kecuali pada hal khusus  seperti jual beli busur, berdiskusi dengan guru memanahmu tentang berat busur yang sesuai untukmu. 

Dan juga janganlah pernah menanyakan berapa berat tarikan busur gurumu, terlebih tidak sopan.

3. Tidak Menyentuh Ataupun Meneliti Alat Panah Orang Lain Tanpa Izin.

Suatu hari guru kami menegur seorang murid diantara kami " Jangan memegang yang tidak disuruh pegang. Tidak boleh sembarangan menyentuh punya orang tanpa izin." 

Bila ingin melihat alat panah seseorang minta izinlah terlebih dahulu. Adalah haknya memberi izin atau tidak. Busur panah atau Ibu Panah itu ibarat istri, tentu setiap pemanah ingin menjaga istrinya dengan baik. 

4.  Jangan Meminta Melihat Kusytiban /Thumbring Pemanah Lain.

Kusytiban atau cincin jempol atau thumbring adalah cincin khusus bagi pemanah. Disana terdapat tolak ukur baik buruknya teknik memanah seseorang. 

Semakin mahir tekniknya maka semakin mulus Kusytiban seseorang. 

Sebaliknya, jika Kusytibannya lecet-lecet maka itu adalah aib seorang pemanah yang sebaiknya disembunyikan dan terus melatih tekniknya. Para ulama memanah terbiasa menyembunyikan Kusytiban mereka, dan selayaknya para murid tidak menanyakan ingin melihat Kusytiban milik gurunya.

Tulisan ini adalah sebagian rangkuman catatan belajar dari guru-guru kami.

Aceh, Jumat 25 Desember 2020


* Habib Qori Afrizan Al - Khered,  Pusaka Ilmu Memanah Dalam Islam, disadur dari manuskrip kuno "Al Idhah Fi Ar-Rimayah Fi Fadhl Al Qaus Wa Al Watar Wa An-Nusyab Wa Ma'rifati Ushuli Dzalik  Wa Siqayat As-Silah Al-Muhlikat li Al-A'da ala Niyyat Al Jihad fi Sabilillah" karya Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf Al Ikhbari As-Syafi'i


Posting Komentar untuk " Adab Terhadap Sesama Pemanah (Part 1)"