Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Duka Menimpa Masyarakat Aceh, Ulama Kharismatik Aceh Abu Daud Zamzami Meninggal Dunia

Banda Aceh - Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un. Ulama kharismatik Aceh, Abu Daud Zamzami menghembuskan nafas terakhir pada Selasa Pagi jam 10 kurang lima menit Komplek Dayah beliau Dayah Riyadhus Shalihin Kampung Lam Ateuk Anggok Aceh Besar, 16 Maret 2021.

"Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raji'un. Kaneuwoe Bak Allah Abu Daud Zamzami Murid Langsung Abuya Syekh Muda Waly Al Khalidi / Ketua MPU Provinsi Aceh siat Nyoe. Semoga Allah Anugerahkan Maghfirah Dan Husnul Khatimah Kepada Ulama Aceh Tercinta..... 😭😭.. Satu Persatu Allah Angkat Kembali Hamba2 Kepercayaan Nya Dimuka Bumi, Aceh khususnya" demikian bunyi pesan yang kami terima.

Lihat Video Berikut ini Detik-Detik Jenazah Abu Daud Zamzami Dibawa ke Masjid untuk Dishalatkan   



Sementara itu, informasi serupa juga disampaikan Fanspage Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA) di Facebook. PB Huda menulis:

INNALILLAHI WAINNA ILAIHI RAAJI'UN
TELAH BERPULANG KERAHMATULLAH ULAMA KHARISMATIK ACEH ABU DAUD ZAMZAMI KETUA MPU ACEH SALAH SATU MURID ABUYA MUDAWALY AL-KHALIDY

SEMOGA ALLAH AMPUNI SEGALA DOSA BELIAU DAN ALLAH TEMPATKAN BERSAMA PARA NABI DAN AULIA KELAK DI AKHIRAT ...
آمين يا الله آمين اللهم آمين يارب العالمين

Ini adalah kabar duka bagi umat Islam di Aceh. Sebab Rasulullah shallallah ‘alaihi wa aalihi sallam dalam sabdanya mengatakan:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

 “Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).

Saat ini Abu Daud Zamzami merupakan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), organisasi ulama Aceh yang berperan memperkuat penegakan Syariat Islam melalui fatwa-fatwa dan sikap agama yang dikeluarkan.

Selain sebagai Ketua MPU Aceh, Abu Daud juga merupakan Pimpinan Dayah Riyadhus Shalihin Kampung Lam Ateuk Anggok Aceh Besar.

Lihat Video suasana pelayat di rumah duka meninggalnya Abu Daud Zamzami 



Biografi Abu Daud Zamzami


Dikutip dari tulisan Dr Nurkhalis Mukhtar, Lc, MA dijelaskan Abu Daud Zamzami telah akrab dengan dunia pesantren dan dayah. Beliau belajar langsung kepada ayahnya juga kepada kakek dari pihak ibunya yang memimpin pesantren tersebut. Abu Daud Zamzami tumbuh dalam keadaan mencintai ilmu pengetahuan. Sehingga tidak mengherankan pada usia sebelum baligh beliau sudah mulai ‘meudagang’ di beberapa pondok pesantren tersohor pada masanya.

Setelah menguasai dasar-dasar keilmuan yang dipelajari dari orang tuanya, Abu Daud Zamzami dalam usia sekitar 13 tahun mulai belajar pada ulama besar Aceh Abu Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee di Dayah beliau Lam Seunong Aceh Besar. Kepada Syekh Hasan Kruengkalee beliau mempelajari berbagai cabang keilmuan Islam seperti fikih, ushul fikih, tauhid, tasauf dan ilmu-ilmu lainnya. Sekitar empat tahun beliau memperdalam keilmuannya kepada ulama kharismatik tersebut tentu telah memiliki perbekalan yang memadai untuk melanjutkan pengajian beliau secara mendalam kepada Abuya Syekh Muda Waly di Darussalam Labuhan Haji pada tahun 1953. Di antara teman segenerasi beliau adalah ulama kharismatik Aceh Abu Tu Muhammad Amin Blang Bladeh, Abu Abu Bakar Sabil Meulaboh, Abu Hanafi Matangkeh dan ulama lainnya. Adapun Abu Tanoh Mirah dan Abon Samalanga lebih senior dari mereka satu dua tingkat. Namun mereka semua dapat mengikuti kelas khusus bersama Abuya Muda Waly dalam kelas Bustanul Muhaqiqin yang mashur itu.

Dikutip dari situs Laduni.id, disebut bahwa ketika usianya menginjak umur 7 tahun, Abu Daud Zamzami mulai menempuh pendidikan formal pertamanya. Ia masuk ke Sekolah Rakyat padatahun 1942 dan belajar di sekolah itu selama tiga tahun berikut nya di Lam Teungoh.

Kecendrungan Abu Daud Zamzami kepada pelajaran agama telah nampak semenjak kecil. Ini tampak jelas ketika ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikanya ke Dayah Lam Seunong, Kuta Baro, Aceh Besar,sebuah dayah yang dipimpin oleh Teungku Krueng Kalee.

Kemudian ia memutuskan untuk menuntut ilmu lebih dalam lagi ke Labuhan Haji, di Dayah Darussalam dibawah pimpinan Tgk. H. Muda Waly, Ia mulai belajar ilmu yang lebih variatif seperti ilmu Bayan, Nahwu, Sharaf, Fiqh dan mantiq pada tingkat Tsanawiyah dan hingga  pada Aliyah.

Salah satu ingatan istimewanya mengenai prosesbelajarnya di Dayah Darussalam adalah metodologi pengajaran Tgk. H. Muda Waly yang sangat membuka wawasan dan ilmu yang selebar-lebarnya.

Abu Daud belajar di Dayah Darussalam ini selama lebih kurang tujuh tahun (1953-1960). Ia terkenal dengan kedalaman ilmu dalam bidang ilmu Fiqh, Ushul Fiqh, Mantiq, Nahu, tasawwuf dan ilmu tarekat Alhaddadiyah.

Mendirikan Dayah

Berbekal hasil pendidikan dari dayah Darussalam dan juga karena bacaannya yang luas telah menjadikan ilmu agama beliau semakin mendalam. Abu Daud kembali ke kampung halaman di Aceh Besar untuk menjalankan wasiat gurunya.

Ia mulai mengajar di Dayah Ulee Titi membantu Abu Ishaq selama dua tahun. Kemudian ia pindah ke Kampung Lam Ateuk Anggok untuk mendirikan sebuah dayah tradisional yang bernama Dayah Riyadhus Shalihin pada tahun 1960.

Dayah Riyadhus Shalihin ini bukanlah dayah yang baru. Tetapi Dayah ini merupakan lanjutan dari Dayah didirikan oleh Tgk. Mahyuddin (kakek dari Ibu Abu Daud Zamzami) pada tahun 1905.

Abu Daud merupakan pimpinan ketiga setelah sebelumnya dipimpin oleh Teungku Daud Rabeue. Sebelum ia memimpin, Dayah ini sempat mengalami kevakuman kepemimpinan. Pada saat inilah, Abu Daud Zamzami mengambil alih kepemimpinan dan tetap mengelola dayah Riyadhus Shalihin sampai saat ini.

Di dayah ini, Abu Daud mengajarkan ilmu-ilmu akhlak, fiqh dan juga bahasa Arab kepada santri-santrinya. Lama kelamaan pula, murid di pesantren ini terus bertambah seiring dengan semakin dikenalnya nama Abu Daud Zamzami dalam dunia pendidikan dayah.

Dayah Riyadhus Shalihin juga mengizinkan murid-muridnya untuk pergi bekerja atau kuliah di IAIN (UIN Sekarang) atau UNSYIAH pada siang hari dan kembali menuntut ilmu agama di pesantren pada malam hari. Abu Daud Zamzami, dikenal dengan ulama yang selalu memberikan masukan kepada pemerintah, beliau pernah menjadi anggota DPR hingga DPR RI. [Dikutip dari berbagai sumber]

Posting Komentar untuk "Duka Menimpa Masyarakat Aceh, Ulama Kharismatik Aceh Abu Daud Zamzami Meninggal Dunia"