Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tangisan Sujud di Aya Sofia Mengingat Khalifah Usmani

Rizki Dasilva di dalam Masjid Hagia Sophia. Foto: Akun Facebook Rizki Juli


Oleh Rizki Dasilva (dalam Muhibbah ruhiyah perjalanan ke Turki)

Selama di turkey saya memendam rasa sedih dan pilu. Bukan soal saya tidak banyak uang berbelanja disini atau sulitnya menjumpai makanan indonesia. Sambil hati yang gemetar tiba-tiba airmata saya yang saya pendam menetes. 

Melawati lorong-lorong dan jalan di Istanbul Turkey saya merasa hidup dimasa kekhalifahan Turkey Usmani, usmaniyah atau orang barat menyebutnya pemerintahan kerajaan Ottoman. Puncaknya saat saya sujud di Masjid Aya Sofia airmata mata saya tidak bisa tertahan, kembali mengalir deras.

Bagaimana tidak meneteskan airmata kita. Sebagai ummat Islam, kita mengenang peradaban Usmani yang merupakan kisah romantisme kejayaan Islam yang khilafahan terakhir. Berjaya selama 600 tahun lebih mengusai banyak wilayah Asia dan eropa saat itu. 

Raja-raja Islam Ottoman sangat disegani kawan dan lawannya. Saya menetes airmata karena memikirkan ummat Islam saat ini. Seperti anak yang kehilangan orangtuanya. Apakah anda tidak bersedih?

Seperti dikutip dari buku berjudul "History of the Arabs" karya Philip Khuri Hitti, disebutkan bahwa kekhalifahan Dinasti Utsmani di Konstantinopel ini berjaya antara 1517-1924 M. 

Saya tidak akan menulis disini tentang awal mula kejaraan Usmaniyah. Tapi dengan tangan gemetar saya ingin sampaikan lewat tulisan ini kepada anak-anak muda Islam saat ini seluruh dunia. Kita telah kalah dari orang yang pernah membunuh para khalifah. 

Orang yang pernah membenci Islam, memerangi Islam, memerangi para ulama. Runtuhnya kekhalifahan ottoman atau usmani adalah simbol kekalahan ummat Islam. Apakah anda tidak bersedih? Ini yang menyebabkan saya gemetar selama berada di turkey.

Dulu kita punya khalifah Utsmaniyah. Dulu kita ada yang melindungi disaat ummat Islam diserang, dijajah, di bunuh oleh orang-orang kuffar? Dulu kekhalifahan Utsmani di segani karena kekuatan militer Islam dan dulu kita hampir menguasai dunia. 

Siapapun tidak berani membunuh dan menjajah ummat Islam di masa Usmaniyah. Karena kita punya pemimpin.

Untuk khusus generasi muda Aceh! Apakah kita tau dulu hanya sumatera dan khususnya Aceh yang cukup sulit dijajah oleh belanda karena kita di bantu dan dijaga oleh kekhalifahan Ustmaniyah saat itu?

Buka matamu bukan hatimu, lihat betapa banyak makan-makan para syuhada tentara usmani yang tertinggal di tanah rencong karena syahid diperang sabi.

Saya menangis dan airmata tak tertahankan, saat sujud di Aya Sofia. Seakan akan saya melihat sultan al Fatih atau disebut Sultan Mehmet II yang  berhasil menguasai Konstantinopel, kota yang paling tak tertembus di dunia kala itu. 

Sultan alfatih dipuji oleh nabi Muhammad saw “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam . Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad)

Alfatih muda berumur 21 tahun berhasil menaklukan konstantinopel. Mulanya, kota Konstantin dikenal sebagai Byzantium. Pada usia 1.000 tahun saat Konstantin Agung menjadikannya ibu kota Kekaisaran Romawi pada 330 M, kota itu dinamai Konstantinopel.

 Namun pada 1453, bangsa Turki di bawah kepemimpin Sultan Mehmet II menguasai Konstantinopel dan menjadikannya ibukota Kekaisaran Utsmani dengan namanya Istanbul. 

Saya ingin langsung bercerita ke Ottoman yang mencapai puncak kejayaannya pada masa Khalifah Sulaiman al-Qanuni sepanjang abad ke-16 dan 17. 

Al-Qanuni sendiri bermakna sang pemberi hukum. Ia memerintah antara 1520-1566 M. Pada saat itu, Turki Utsmani dinobatkan sebagai pemilik kekuatan tempur terbesar di dunia. 

Siapa yang tidak merinding? Bahkan jumlah kapal perang punya khalifah usmani saat ini tidak bisa tidak tandingi oleh bangsa-bangsa eropa. Alhasil Ummat Islam di segani.

Saya menangis kembali saat membaca cerita khalifah terakhir di juluki singa terakhir benteng ummat Islam dia adalah khalifah Abdul hamid II. Dengan sekuat tenaga, pontang panting melawan para musuh-musus Islam. 

Perjuangan Sultan Abdul Hamid II begitu luar biasa, terlebih dalam mempertahankan Tanah Palestina bumi para ambiya dari serangan dan usaha perebutan dari pihak-pihak musuh Islam saat itu? 

Pada masa kepemerintahannya  gerakan missionaris Kristen sangat gencar dan gerakan para orang Yahudi mulai gencar secara terang-terangan. 

Dengan Sultan Abdul Hamid II dan merayunya, dengan membawa sejumlah uang kepada sang Sultan, agar Sultan mau menyerahkan Tanah Palestina padanya. 

Namun, jawaban Sultan Abdul Hamid II sangatlah tegas, “Saya tidak akan mungkin melepaskan sejengkalpun Tanah Palestina, meskipun itu hanya sejengkal. Palestina adalah bukan milikku, namun milik ummat Islam.

 Ummat Islam telah banyak mengorbankan nyawa dalam mempertahankan Palestina. Sebaiknya kalian simpan uang tersebut. Jika suatu saat kekhalifahan Turki Ustami runtuh, kemungkinan besar mereka akan mampu menguasai Palestina hanya dengan Cuma-Cuma.”

Namun apa daya. Saat para zionis tak mampu merayu sang khalifah, mereka membuat rencana licik, mereka mengulingkan khalifahan usmani terakhir dengan cara yang sangat licik meng-adudomba, membentuk organisasi muda turkey menggulingkan khilafah, akhirnya khilafah pun runtuh. 

Diserahkan pemerintah turkey kepada Mustafa kemal at-turk dengan desakan berbagai punjuru. Ummat Islam mencitai khilafah menangis. Sultan abdul hamid dan keluarganya diasing ke yunani dan wafat di penjara. 

Teman, saudaraku! Kita pantas bersedih, namun tidak berdiam diri. Kita harus bangkit!. Saya menaruh harapan besar buat presiden turkey Erdogan untuk mengambilkan kejayaan ottoman. 

Mana tau ada genarasi selanjutnya yang akan membawa peradaban Islam kembali berjaya. Saat Alquran dan sunnah adalah kepribadian ukhwah Islamiyyah adalah kekuatan kita dan Khalifah adalah benteng ummat Islam.


Rizki Dasilva

Turkey 3 April 2021

Posting Komentar untuk "Tangisan Sujud di Aya Sofia Mengingat Khalifah Usmani"