Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rawat Cagar Budaya, TNI-Polri Gelar Aksi Meusaraya di Makam Kuno Ulama Tgk Chiek Di Simpang

TNI-Polri dan warga gelar aksi meusaraya di Makam Tgk Chiek di Simpang atau Tgk Chiek Muhammad bin Ahmad Khatib Langgien. Foto : istimewa

Suara Darussalam - Jajaran personel TNI-Polri dan Masyarakat Kemukiman Teupin Raya Kecamatan Glp Tiga Kabupaten Pidie melakukan kegiatan Meusaraya (gotong royong) sebagai aksi sosial di Komplek Makam Tgk Chiek Di Simpang (Tgk Chiek Muhammad bin Ahmad Khathib Langgien) di Gampong Kruet Teumpeun Kemukiman Teupin Raya, Kecamatan Glp Tiga Kabupaten Pidie, Sigli 2 Desember 2021. 

Kedatangan Tim jajaran personel TNI-Polri Kecamatan tersebut disambut oleh Tgk Keuchiek dan warga Gampong Kruet Teumpeun tersebut. Tgk Keuchik Gampong Kruet Teumpeun Muhammad Rifki Abdullah SPd, melaporkan kepada media ini, Kamis (2/12/2021). 

Pihaknya Gampong Kruet Teumpeun sangat berterima kasih dan apresiasi kepada Tim personel TNI-Polri Kecamatan Glp Tiga Kabupaten Pidie atas segala bentuk perhatian dengan aksi nyata memberi penghormatan kepada para pusara Ulama besar di Aceh ini berupa mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa Makam Ulama sebagai situs Cagar Budaya Aceh ini perlu direstorasi secara berkesinambungan sehingga peninggalan Cagar berupa benda yang mengandung ilmu pengetahuan ini terlestarikan sepanjang masa, sejumlah warga gampong terdiri dari ibu ibu  turut melibatkan diri untuk ber Meusaraya aset bersejarah ini. 

Danramil 10 Glumpang Tiga, Pidie, Kapten Inf Nazaruddin mengatakan pada media (2/12/2021) gotong royong bersama (Meusaraya) gabungan ini sebagai bentuk penghormatan sebagai ulama bersejarah yang sangat terkenal pada masanya yaitu era penjajahan Belanda, aksi ini adalah sebagai bentuk kegiatan bakti sosial dan penghormatan dan kepedulian kepada Makam Ulama dalam rangka Anjangsana.

 Dan Ramil 10 Glp Tiga, Kabupaten Pidie ini juga menjelaskan, semenjak pelatakan batu pertama mulai pemugaran makam ini saya hadir bersama jajarannya di makam bersejarah ini dan terus saya pelajari sejarah dari nilai nilai sejarah dari makam Tgk Chiek Di Simpang, lintasan sejarah beliau (Tgk Chik Di Simpang telah melahirkan banyak karya-karya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat Aceh dan Asia Tenggara. 



Salah satunya yaitu Dawaul Kulub dalam Kitab Lapan," Dan sejumlah karya besar lainnya dalam bentuk naskah kuno, sebutnya. Dijelaskan, kegiatan bakti sosial ini sebagai bentuk penghormatan dan kepedulian kepada Makam Ulama dalam rangka Anjangsana.

Selain itu juga sebagai generasi penerus bangsa harus menghargai jasa para ulama. "Maka sebelum kita melakukan pembersihan makam ini, kita melakukan zikir dan doa bersama," terangnya. 

Seperti diketahui bersama bahwa Makam Tgk Chiek Muhammad bin Ahmad Khathib Langgien atau panggilan populer di masyarakat Pidie dengan lakaf Tgk Chiek Di Simpang, yang berlokasi di Desa Kruet Teumpeun, Kemukiman Teupin Raya, Kecamatan Glp Tiga, Kabupaten Pidie, mulai di pugarkan pada Senin (26/7/2021) beberapa bulan yang lalu oleh Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh. 

Dengan sumber pendanaan dari salah seorang Hamba Allah, dan peletakan batu pertama pembangunan pemugaran Makam pada saat itu di lakukan oleh anak kandung Ulama besar kharismatik Aceh Abu Usman Kuta Krueng, yakni Tgk Nurdin Bin Usman Kuta Krueng atau yang akrab disapa di kalangan dayah dengan Ubaiya.

Proses pemugaran diawali dengan menepungtawari serta tahlil, samadiah dan doa bersama yang dipimpin oleh Ubaiya sendiri. 

Kilas Balik Sejarah Singkat Tgk Chiek Di simpang

Tgk Chiek Di Simpang merupakan salah satu ulama besar Pidie yang sangat aktif menulis dan mengarang beberapa karya monumental semasa hidupnya pada pertengahan abad ke-18, tepatnya pada masa Kesultanan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Mansyur Syah (1857-1870 Masehi).

Era tersebut merupakan masa-masa kelemahan Kesultanan Aceh Darussalam karena pengaruh invasi Portugis dan Belanda. Dalam kondisi tersebut, Tgk Chik Di Simpang masih mampu menulis beberapa karya dan petuah bagi generasi Aceh berikutnya.

Tgk Chik Di Simpang dianggap sebagai tokoh yang sangat penting bagi pendidikan pada era Kesultanan Aceh Darussalam, sekaligus dikenal sebagai intelektual Islam terkemuka abad ke-18. Di antara karya yang ditulis oleh Tgk Chik Muhammad bin Ahmad Khathib Langgien berupa Naskah Kuno (Manuskrip Aceh) yakni; Tariqat Syatariah, Asraruddin Li Ahlul Musyahadah wal Yaqin, Ziya-ul Wara, Bustanus Salikin, Mafatih Al Ghuyub bi unillahi al Maliki ma'bud, Kay'usul Muhaqqiqin, Mi'rajus Salikin, Syifa-ul Qulub, Dawa'ul Qulub, dan beberapa judul manuskrip lainnya. []

Posting Komentar untuk "Rawat Cagar Budaya, TNI-Polri Gelar Aksi Meusaraya di Makam Kuno Ulama Tgk Chiek Di Simpang"