Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kewajiban Belajar Mengajar dalam Tafsir Alquran

Alquran yang mulia. Foto: internet


Oleh Maulidiah Fauza

Mahasiswi Prodi PAI UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

 
1.        Surat Al-'Alaq ayat 1-5

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ - ١

Arab-latin: Iqra` bismi rabbikallażī khalaq

Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,"

 

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ - ٢

Arab-latin: Khalaqal-insāna min 'alaq

Artinya: "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah."

 

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ - ٣

Arab-latin: Iqra` wa rabbukal-akram

Artinya: "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,"

 

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ - ٤

Arab-latin: Allażī 'allama bil-qalam

Artinya: "Yang mengajar (manusia) dengan pena"

 

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ - ٥

Arab-latin: 'Allamal-insāna mā lam ya'lam

Artinya: "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."

 

Ayat 1 : Pada ayat ini mengatakan, kewajiban seorang muslim sebelum belajar biasakan memuliakan dan menyebut nama Allah, karena sesungguhnya ilmu itu datangnya dari Allah. Kita bisa mendapatkan ilmu ini dengan izin Allah, maka dari itu tidak boleh malas-malas untuk meminta kepada Allah SWT. Kalau kita tidak meminta kepada-Nya bagaimana Allah mau memberikan kepada kita.

Ayat 2 : Pada ayat ini Allah mengingatkan manusia bahwa tidak boleh menjadi orang yang sombong. Kita ini hanya makhluk Allah yang berasal dari tetesan yang sangat hina yaitu tetesan sperma, yang kemudian menjadi segumpal darah, lalu membentuk segumpal daging, sehingga menjadi seorang manusia.

Ayat 3 : Pada ayat ini kita diminta untuk menyebut nama Allah sebelum belajar dan meminta kepada-Nya. Sehingga Allah menurunkan sifat pemurah-Nya dengan memberikan ilmu tersebut. Ilmu ini adalah kenikamatan bagi kita sebagai seorang muslim. Jika seorang Muslim mempunyai ilmu, maka ia akan mendapatkan keberkahan baik di dunia maupun di akhirat, diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Maka dari sinilah senantiasa kita selalu meminta kepada Allah, karena Allah lah pemilik segala ilmu.

Ayat 4-5: Allah mengajarkan manusia mengenai apa-apa yang tidak diketahui oleh manusia melalui perantara kalam. Yang dimaksudkan disini ialah kita senantiasa terbiasa untuk menulis, karena menulis sangat banyak manfaatnya bagi diri sendiri maupun orang lain. Menulis ini tidak disampaikan secara tersurat melainkan tersirat. 

Selain kewajiban kita untuk membaca kita juga diminta untuk bisa menulis agar ilmu tersebut terjaga. Ilmu jika tidak ditulis ia akan hilang dengan sendirinya, karena manusia ini mempunyai sifat pelupa maka dari itu layaknya sebagai seorang penuntun ilmu, disamping membaca kita juga harus rajin-rajin menulis. 

Dengan kita menulis dapat menghasilkan hasil karya baru yang bisa dibaca dan dijadikan oleh orang lain, yang kemudian itu termasuk kepada sedekah jariyah kita ketika sudah meninggal. 

Kenapa pada zaman dahulu orang-orang Islam sangat pintar, sangat bijaksana, sangat kritis, sangat cerdas? Karena mereka selalu membaca diiringi dengan memuji nama Allah dan mereka selalu menulis. Jadi dalam belajar mengajar ini tidak lepas dari membaca dan menulis, maka perlunya kita sebagai calon guru Agama untuk memahami tafsir dari surat Al-Alaq (1-5) ini.

 
2.      Surat Al-Baqarah ayat 78-79

 وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿٧٨﴾

 

Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.”(Q.S Al-Baqarah[2]: 78)

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـٰذَا مِنْ عِندِ اللَّـهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ ﴿٧٩﴾

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.”

Dalam ayat ini Allah menyebut kecelakaan besar bagi seseorang yang menulis sesuatu dengan tangannya sendiri yang kemudian mereka mengatakan itu berasal dari Allah dengan tujuan untuk mempereh keuntungan yang duniawi dan untuk memanipulasi kebenaran (menutupi kebenaran). Kita tidak boleh menjadi orang-orang yang menjual kebenaran untuk kepentingan yang sifatnya duniawi.

Pada ayat ini, orang Yahudi menyandarkan dalil-dalil mereka pada Al-Qur'an, yang isinya sangat bertentangan dengan isi dari pada kalam Allah. Ini menunjukkan mereka sedang menutupi kebenaran dan membela kemaksiatan, seperti kasus LGBT na'uzubillahi mindzallik. Jadi kita sebagai penuntut ilmu tidak boleh menutup-nutupi kebenaran dengan kebatilan, tetapi buatlah kebatilan itu sebagai kebenaran.

 
3.        Surat Al-Imran ayat 79

مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ يُّؤۡتِيَهُ اللّٰهُ الۡكِتٰبَ وَالۡحُكۡمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوۡلَ لِلنَّاسِ كُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّىۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ وَلٰـكِنۡ كُوۡنُوۡا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡكِتٰبَ وَبِمَا كُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَۙ‏

“Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, "Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah," tetapi (dia berkata), "Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!"

 

Allah mengajarkan kita untuk menjadi orang-orang yang rabbani yaitu orang yang selalu menjaga agama Allah. Kita akan menjadi seorang yang rabbani jika kita mengajarkan ilmu kepada orang lain yang bersandar pada kitab-kitab tanpa ada unsur merubah-rubah isinya. 

Tidak seperti orang Yahudi, mereka suka memanipulasi kebenaran dengan tujuan untuk membodohkan manusia-manusia yang awam yang kemudian sang yahudi tersebut mengambil keuntungan dari manusia yang awam tadi. Jadi kesimpulannya kita tidak boleh menjadi orang-orang yang meragukan kebenaran, karena kebenaran itu sesunggugnya berasal dari Allah, berusahalah menjadi seseorang yang rabbani, dan senantiasa selalu meminta kepada Allah apa yang kita butuhkan serta memuliakan nama-Nya. [Tulisan ini merupakan tugas merangkum pada Mata Kuliah Tafsir di Prodi PAI UIN Ar-Raniry, dalam masa belajar Daring selama Covid]

Posting Komentar untuk "Kewajiban Belajar Mengajar dalam Tafsir Alquran"